30 tahun peluncuran perdana Sega Mega Drive: Konsol retro terbaik SEGA

Jakarta (ANTARA News) – Sega Mega Drive dikenal sebagai konsol game kedua yang dirilis oleh developer game SEGA. Konsol ini pertama kali dirilis di Jepang pada 29 Oktober 1988. Seperti dikutip dari segaretro.org, Sega Mega Drive dirilis setahun kemudian di pasar Amerika Serikat dengan nama Sega Genesis dan meraih popularitasnya pada tahun 1991 ketika game “Sonic the Hedgehog” diluncurkan sekaligus diperkenalkan sebagai maskot SEGA.

Kendati telah berlalu 30 tahun silam, konsol 16-bit ini masih dikenang sebagai salah satu konsol retro terbaik nomor dua setelah Super Nintendo, berdasarkan hasil survei yang dirilis majalah Retro Gamer tahun 2018. Kapan konsol ini masuk ke Indonesia, apa saja keunggulan konsol ini, upaya bertahan konsol ini ketika menghadapi Sony Playstation hingga respons komunitas atas rencana akan dirilisnya Sega Mega Drive mini tahun depan merupakan hal-hal menarik untuk dibahas dalam rangka mengenang 30 tahun peluncuran perdana Sega Mega Drive seperti dikompilasi Antaranews dari beragam sumber.

Pertama kali masuk Indonesia

Kendati Sega Mega Drive dirilis pertama kali di Jepang tahun 1988 dan setahun kemudian di Amerika Serikat, konsol ini malah masuk pertama kali ke Indonesia sekitar tahun 90-an. Perwakilan Republic Games & Collectors Indonesia (RGCI) Rizki Abdallah menyatakan Sega merupakan konsol game selain Nintendo (Nintendo Entertainment System atau NES) yang pertama kali masuk ke Indonesia sekitar tahun 90-an.

Konsol Sega Mega Drive yang pertama kali masuk adalah Mega Drive 1 kemudian berhenti di Mega Drive 2. Ketika Sega Mega Drive 3 masuk, konsol ini sudah tidak begitu populer.

Keunggulan Sega Mega Drive
  Deretan kaset-kaset game untuk konsol Sega Mega Drive di Jakarta, Minggu (28/10/2018). (Antara News/Aji Cakti)

Rizki juga mengungkapkan terdapat beberapa keunggulan Mega Drive dari performa mesinnya yang membuat konsol menjadi populer di masanya.  “Kalau mau jujur sebetulnya Sega Mega Drive itu jika dibandingkan dengan konsol lainnya yang sezaman yakni Super Nintendo secara fitur masih agak kurang, namun dari sisi grafis warna Sega lebih unggul,” kata Rizki.

Kunci utama keunggulan itu, seperti dikutip dari majalah Retro Gamer, terletak pada komponen prosesor grafis Mega Drive yang mampu menciptakan grafis serta warna game lebih dinamis dan realistis. Rizki juga mengungkapkan bahwa keunggulan lain dari konsol Mega Drive adalah memiliki pustaka game sendiri alias ekslusif yang tidak terdapat di konsol lainnya, seperti “Bare Knuckle”, “Road Rash” dan “Golden Axe”.

Sonic dan perang konsol
  Dua kaset game yang menghadirkan maskot SEGA yakni Sonic si landak biru terlihat di Jakarta, Minggu (28/10/2018)

Konsol Sega Mega Drive juga dikenang pada zamannya karena terlibat persaingan sengit dengan rivalnya Super Nintendo yang dikenal juga sebagai perang konsol. “Walaupun Genesis laris terjual, konsol ini masih belum mampu menumbangkan Nintendo yang masih menguasai Amerika Utara berkat ‘Super Mario Bros. 3…pada tahun 1991 Sega akhirnya menemukan game yang bisa mengimbangi kedigdayaan Mario yakni ‘Sonic the Hedgehog’. Dirancang khusus untuk pangsa Amerika, Sonic merupakan game inovatif dan bertempo cepat,” tutur assistant professor University of Texas D.S. Cohen seperti dikutip Antaranews dari lifewire.com

“Sonic the Hedgehog”, menurut Cohen, tidak hanya menjadi maskot melainkan juga game andalan Sega yang dibundling dengan konsol Mega Drive dengan harga penjualan lebih murah dibandingkan Super Nintendo di Amerika Utara. Walhasil penjualan Nintendo anjlok menjadi 37 persen di kawasan tersebut.

Upaya terakhir Mega Drive hadapi Playstation
  Perangkat tambahan untuk Sega Mega Drive yakni Sega 32X yang dipajang dalam salah satu etalase pameran di Jakarta, Minggu (28/10/2018). (Antara News/Aji Cakti)

Di tengah sengitnya perang konsol antara Sega dengan Nintendo, diam-diam ancaman baru mulai mengancam kedigdayaan kedua perusahaan tersebut. “Sebetulnya kemunculan konsol Sony Playstation tidak pernah diduga oleh kedua belah pihak, baik SEGA maupun Nintendo,” ujar Rizki.

Dalam upaya mempertahankan popularitasnya di pasar, menurut Rizki, SEGA sendiri berusaha mengimbangi fitur cakram padat atau compact disc (CD) salah satunya dengan merilis perangkat ekstensi Sega Mega CD yang menghasilkan suara dan grafis permainan yang lebih hidup. “Evolusinya tidak hanya berhenti sampai disitu, SEGA juga meluncurkan perangkat tambahan untuk Mega Drive bernama 32X. Perangkat ini fungsinya untuk meningkatkan kapasitas memori agar game yang dimainkan lebih bagus,” ujarnya.

Walaupun SEGA berupaya meningkatkan evolusi Mega Drive melalui perangkat-perangkat tambahan, namun keinginan keras SEGA untuk tetap mempertahankan konsol lama dengan tidak menawarkan fitur-fitur terobosan menurunkan tidak hanya  popularitas Mega Drive namun juga SEGA sendiri.

Respons terhadap Sega Mega Drive Mini

Menurut kabar yang dikutip Antaranews dari Poilygon, SEGA berniat untuk menghidupkan kembali konsol Mega Drive dalam bentuk mini pada tahun 2019. Sayangnya rencana ini ditanggapi dingin oleh komunitas RGCI. “Kalau menurut penilaian saya sebagai kolektor game, rencana itu merupakan hal yang percuma karena hanya mengikuti langkahnya Nintendo,” kata Rizki.

Semuanya itu, kata dia, hanya latah ikut-ikutan Nintendo yang pernah merilis Nintendo (NES) mini pada tahun 2016. Mungkin tidak cuma SEGA, Sony dan Atari juga berniat mengikuti hal yang serupa. “Karena mereka tahu bahwa pasar game retro(sekarang) bersifat sangat spesifik atau niche market. Orang-orang yang dulu pada masa kecilnya tidak mampu membeli banyak game atau konsol, dan sekarang saat mereka memiliki daya beli lebih mereka mulai mengoleksi barang-barang lama tersebut pastinya akan langsung membelinya,” ujar Rizki    

Oleh Aji Cakti
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2018