IDI: Cawapres cukup soroti masalah “stunting”

Jakarta (ANTARA) – Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih mengatakan calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 1 Maruf Amin dan cawapres nomor urut 2 Sandiaga Uno cukup menyoroti masalah “stunting” (kekerdilan) dalam debat putaran ketiga.

“Sudah secara garis besar dengan program promotif dan proventif,” kata Daeng saat dihubungi ANTARA,¬†Jakarta, Minggu malam.

Daeng menuturkan cawapres juga menyampaikan lebih spesifik program untuk mengatasi stunting seperti fokus pada 1.000 hari pertama kehidupan, sanitasi yang baik dan pemberian asupan makanan tambahan bagi anak.

Cawapres nomor urut 01 Maruf Amin dalam debat putaran ketiga berjanji bahwa pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Maruf Amin akan menurunkan tingkat kekerdilan hingga 10 persen.

Daeng mengatakan sekarang ini angka stunting di Indonesia 30,8 persen, sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengharapkan angka stunting di bawah 20 persen.

“Memang ada perbedaan sekitar 10 persen untuk mencapai harapan WHO. Ini tidak mudah dicapai. Perlu kerja ekstra keras di bidang kesehatan,” ujarnya.

Daeng menuturkan untuk penanganan masalah stunting, maka program promotif dan preventif dari awal kehidupan manusia perlu digalakkan khususnya saat kehamilan dan 1000 hari pertama kehidupan dengan jaminan asupan gizi yang cukup dan tercegah dari terjangkitnya penyakit yang merupakan faktor dominan penyebab stunting.

Debat putaran ketiga antara cawapres nomor urut 1 Maruf Amin dan cawapres nomor urut 2 Sandiaga Uno mengangkat tema “Pendidikan, Ketenagakerjaan, Kesehatan, Sosial dan Budaya”.

Pemilihan presiden (pilpres) dan wakil presiden 2019 diikuti dua pasangan calon, yaitu nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno.*

Baca juga: Ma’ruf janjikan perlindungan TKI di luar negeri

Baca juga: Sandi: Semua layanan cukup dengan satu kartu

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019