Mahasiswa harus miliki mental kritis untuk bangun perusahaan rintisan

Indriani (ANTARA) – Mahasiswa dinilai perlu memiliki mental kritis yang bisa mencari dan melihat peluang baru untuk membangun perusahaan rintisan, kata doktor manajemen, strategi dan pertumbuhan dari Universitas Bina Nusantara Kurnadi Gularso.

“Mahasiswa itu harus memiliki mental critical thinking dalam membangun perusahaan rintisan, mencari dan melihat peluang baru. Jangan hanya melihat model bisnis dan produk yang sudah ada tapi perlu melihat pelanggan yang memiliki potensi tetapi belum terlayani,” ujar Kurnadi usai sidang promosi doktor dirinya di Jakarta, Senin.

Kurnadi yang memiliki disertasi berjudul Peran Inovasi Model Bisnis yang Disruptif dalam Mencapai Keunggulan Transien dengan Moderasi Ikatan Komunitas, Studi pada Usaha Rintisan Digital di Indonesia, mengatakan banyak perusahaan rintisan yang tidak bertahan lama dikarenakan tidak berorientasi pada pelanggan, tidak berani mengambil risiko dan tidak memiliki kemampuan mengkofigurasi sumber daya manusia baik internal dan eksternal.

Menurut dia sumber daya manusia harus terus diperbaharui untuk mencapai perusahaan yang memiliki orientasi pada pelanggan. Kondisi perusahaan rintisan di Indonesia berbeda dengan luar negeri yang sudah berfokus pada pelanggan.

“Perlu diperhatikan bagaimana perusahaan rintisan tidak hanya fokus memiliki banyak pelanggan, tetapi yang paling utama bagaimana mengelolanya.” katanya.

Dia memberi contoh perusahaan penjual tiket dan hotel Traveloka, yang memberikan penghargaan kepada hotel-hotel yang bereputasi baik. Dengan adanya ikatan itu, pihak hotel tidak akan melirik perusahaan rintisan baru yang bergerak di bidang serupa.

Kurnadi juga berharap ke depan, pemerintah turut membantu dalam menciptakan ekosistem yang baik. Bahkan kalau bisa ekosistem yang terbentuk sesuai  dengan Digital Economy Society Index atau masyarakat yang berbasiskan digital.

Direktur Sumber Daya Manusia dan Keuangan LKBN Antara Nina Kurnia Dewi yang juga hadir dalam sidang itu memuji Kurnadi yang berani mengambil topik yang terbilang baru yakni perusahaan rintisan.

“Orang lain biasa mengambil data sekunder, tetapi ini Pak Kurnadi berani masuk ke dalam komunitas perusahaan rintisan dan melakukan penelitian,” ujar Nina.

Nina juga berharap pemerintah memperhatikan keberadaan perusahaan rintisan yang ada saat ini, hal ini untuk mencegah perusahaan itu tidak dibeli oleh asing. Selain itu juga perlu diperhatikan pembinaan dari perusahaan rintisan itu.

“Biasanya yang menjadi direktur perusahaan rintisan itu anak-anak muda, yang masih perlu bimbingan. Ke depan perlu adanya pembinaan kepada mereka terutama dari para ahli di bidangnya,” harap Nina. * 

Baca juga: Perguruan tinggi perkuat prodi hadapi era disrupsi
Baca juga: Sisi gelap dan terang era digital
 

Pewarta: Indriani
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019