Memahami skizofrenia, kanker jiwa

  Oleh dr Dito Anurogo M.Sc *)

Istilah kanker jiwa atau skizofrenia berasal dari bahasa Jerman, yaitu schizo (perpecahan) dan phrenos (pikiran atau jiwa), sehingga berarti perpecahan pikiran atau jiwa.

Dahulunya, Emil Kraepelin menyebut skizofrenia sebagai demensia prekoks, lalu istilah schizophrenia dipopulerkan oleh Eugen Bleuler.

Studi epidemiologi menyatakan 1 persen penduduk dunia menderita skizofrenia. Prevalensi skizofrenia berkisar 2,7 per 1.000 jiwa hingga 8,3 per 1.000 jiwa, atau sekitar 5 per 1.000 jiwa. Insiden tahunan berkisar 0,11 per 1.000 hingga 0,70 per 1.000 jiwa.

Skizofrenia banyak dialami pria berusia 15-25 tahun dan wanita berusia 25-35 tahun.

Meskipun penyebab pasti belum diketahui, diduga skizofrenia disebabkan multifaktor, seperti rentan stres, tekanan (ekonomi, pekerjaan) yang dahsyat dan berkali-kali, gangguan metabolisme, kelainan susunan saraf pusat yang mengganggu beberapa zat neurokimiawi di otak seperti dopamin, serotonin, GABA, norepinefrin, neurotensin, glutamat.

Kelemahan ego, disharmoni (ketidakserasian) jiwa, disorganisasi (terpecahbelahnya) kepribadian, maladaptasi (buruknya kemampuan beradaptasi dengan lingkungan-masyarakat), sehingga penderita cenderung menjauhi realita dan mengasingkan diri.

Stres psikologis, seperti: kompetisi antarsaudara dan sahabat, ditinggal atau diputus pacar, konflik keluarga, ketidakharmonisan hubungan di dalam kehidupan. Konflik politik-sosioekonomi, pengaruh agama, nilai moral, perbedaan budaya, berpengaruh pula terhadap kejadian skizofrenia.

Riset biomolekuler terbaru menyatakan bahwa gen neuregulin-1 (NRG1) dan reseptornya (ErbB4) merupakan gen yang paling bertanggung jawab atas timbulnya skizofrenia.

Selain itu, peristiwa mikrodelesi (hilangnya) kromosom 22q11.2 penting pula untuk memahami fenomena skizofrenia.

Selain itu, juga terdapat bukti kuat tentang perubahan sinyal glutamatergik (glutamatergic signalling) pada skizofrenia dan varian polimorfik dari GRIK3 glutamate receptor gene pada 1p34-33 sebelumnya telah terbukti berhubungan dengan gangguan psikotik ini. Sehingga ada kemungkinan keterlibatan GRIK3 pada perkembangan skizofrenia, setidaknya pada populasi Skandinavia.

Terdapat beberapa kandidat gen untuk skizofrenia, seperti: Neuregulin 1 (NRG1), Dysbindin (DTNBP1), Disrupted-in-Schizophrenia 1 (DISC1), Catechol-O-Methyl Transferase (COMT), D-amino acid oxidase activator (DAOA), Dopaminergic gene. Beberapa di antaranya memang tidak spesifik karena tumpang-tindih dengan gangguan psikotik lainnya, termasuk gangguan bipolar.

Beberapa faktor, seperti trauma masa kecil, kekerasan, permusuhan, hubungan interpersonal di masa anak yang kurang hangat, rendahnya tingkat religiusitas, pernah stres, juga menyebabkan rentan menderita skizofrenia.

Wanita hamil dengan asupan gizi rendah, trauma psikologis, atau terinfeksi virus selama kehamilan, maka anaknya berpotensi skizofrenia.

Potret Klinis

Kumpulan gejala berikut ini minimal berlangsung minimal satu bulan. Waham/delusi, yaitu keyakinan aneh, irasional, namun diyakini benar bahwa dirinya: dikendalikan kekuatan dari luar, tidak berdaya, pasrah, atau pernah merasakan pengalaman mistik. Merasa memiliki kemampuan supranatural yang bertentangan dengan adat, budaya, atau agama.

Halusinasi, misalnya mendengar jelas suara atau bunyi tertentu, (misalnya: komentar orang tentang dirinya, bunyi gamelan, musik), mencium bau kembang atau kemenyan, merasa ada racun di makanannya, atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

Gangguan isi pikiran, meliputi bergema meskipun tidak keras, berulang, diambil keluar, atau terpancar keluar (seperti siaran TV, radio) sehingga diketahui orang lain.

Gangguan ide, misalnya terhambat, muncul bersamaan, atau malah berlimpah-ide, satu ide belum selesai dilakukan sudah muncul ide-ide lainnya. Sulit berpikir abstrak. Arus pikiran terputus, berbicara tidak nyambung, suka menciptakan kosakata baru yang aneh dan hanya dapat dipahami dirinya sendiri.

Suka meniru kata-kata atau perilaku orang lain. Menunjukkan perilaku katatonik, seperti kurang luwes, kaku, terus bergerak, gaduh-gelisah, mematung, diam-membisu atau terus-menerus berbicara.

Gangguan kemauan, misalnya tidak dapat mengambil keputusan, kurang cekatan, berkurangnya spontanitas. Gangguan konsentrasi, perhatian juga sering dialami.

Respons emosi terbatas atau menumpul, tak peduli masa depan dirinya sendiri dan keluarganya, bersikap berlebihan seolah bermain sinetron.

Ekspresi dan emosinya terpecah, misalnya mencintai sekaligus membenci seseorang di saat yang sama, terkadang hatinya berbahagia, namun malah menangis tersedu-sedu. Ini menyebabkan kita sulit berempati kepada penderita.

Perilaku berubah menjadi lebih pasif dan sangat apatis. Uniknya, penderita memiliki kesadaran jernih dan kemampuan intelektual yang tetap terpelihara. Beberapa di antaranya ber-IQ tinggi, bahkan jenius, namun tertutup, amat mandiri, dan penyendiri.

Perjalanan Penyakit

Perjalanan klinis skizofrenia melalui tiga tahapan, dari ringan, berat, kemudian stabil, yaitu tahap premorbid, fungsi penderita masih relatif normal. Tahap prodromal, yang berlangsung selama 2-5 tahun, ditandai dengan konsentrasi berkurang, mudah lelah dan curiga, gangguan tidur dan fungsi peran. Tahap psikotik, dimulai dengan fase akut, stabilisasi, lalu stabil.

Fase akut ditandai dengan pikiran kacau, waham/halusinasi, ketidakmampuan penderita mengurus dirinya sendiri. Fase stabilisasi berlangsung 6-18 bulan, dialami setelah terapi diberikan dokter. Setelah fase stabilisasi terlewati, gejala menghilang, namun beberapa penderita masih merasa sulit tidur, tegang, cemas, atau depresi.

Diagnosis dipastikan dokter menurut PPDGJ-III atau DSM-IV-TR. Berat-ringannya skizofrenia diukur dengan instrumen The Positive and Negative Syndrome Scale (PANSS) atau Brief Psychiatric Rating Scale (BPRS).

Fungsi psikososial diukur menggunakan skala Global Assessment of Functioning (GAF). Sedangkan perubahan struktur-fungsi otak penderita diketahui melalui teknik pencitraan, seperti Magnetic Resonance Imaging (MRI), Positron Emission Tomography (PET), atau Single Photon Emission Computed Tomography (SPECT).

Terapi dan Pencegahan

Dokter akan memberi terapi sesuai indikasi dan perjalanan penyakit penderita. Dapat berupa terapi psikososial, meliputi psikoterapi, cognitive behavioral therapy, rehabilitasi psikiatri, latihan keterampilan-kognisi sosial, dan manajemen kasus. Terapi psikofarmaka berupa obat antipsikotik atau antikolinergik.

Terapi vocational rehabilitation, yaitu memberikan pelatihan, keterampilan, pekerjaan, juga diperlukan.

Gen-gen tertentu telah menjadi target obat untuk skizofrenia, seperti gen pengkode serine racemase (SRR), yang mensintesis d-serine, dan satu uji klinis telah menunjukkan hasil positif dengan menambah antipsikotik.

Gen-gen lainnya, seperti: DISC1, NOS1, NOS1AP, GRM, Pdxdc1, atau ZNF804A, telah terlibat dalam target pengobatan untuk skizofrenia dalam studi preklinis. Sebagai contoh, reseptor D2 dopamin telah terbukti berinteraksi dengan protein DISC1, dan gangguan interaksi ini dengan peptida berefek seperti antipsikotik.

Baru-baru ini, gen Pdxdc1 adalah target pengobatan antipsikotik baru karena efek modulasi dari penghambatan pre-pulse, suatu perilaku endofenotipe yang sering digunakan untuk menyaring efek antipsikotik. Selain itu, berbagai risiko genetik seperti copy number variants (CNV) juga telah menjadi target terapi potensial bagi skizofrenia.

Perlu dicatat bahwa neurobiologi yang terlibat dalam pelbagai risiko genetik ini teramat kompleks dan memerlukan riset luas untuk menjelaskan implikasi terapeutik.

Untuk pencegahan skizoprenia, diperlukan manajemen hati, jiwa, dan pikiran yang terpadu, seperti ridha menerima takdir-Nya, sepahit apapun, sebab inilah caraNya mendewasakan dan menempa diri kita.

Berharaplah hanya kepada Allah. Hindari terlalu berambisi meraih duniawi, yakni semua hal yang menyebabkan kita melupakan-Nya. Jangan terlalu menyesali masa lalu.

Bersikaplah proaktif dalam hidup bermasyarakat, seperti menjadi relawan kegiatan kemanusiaan. Hindari tebar-pesona atau terlalu memberi harapan saat menjalin asmara.

Mentalitas menerabas perlu ditebas, nikmatilah proses, hindari KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) atau suka “bermain lewat pintu belakang”, sebab uang haram memengaruhi kesehatan jiwa.

Kurang bijaksana bila menjauhi atau mengucilkan penderita, sebaiknya segera membawanya ke dokter atau psikiater sebelum terlambat. Dengan penatalaksanaan yang paripurna, diiringi doa dan Cintakasih, maka skizofrenia tentu teratasi dengan baik.

**) Penulis adalah dosen tetap di Falkutas Kedokteran Unismuh Makassar, dokter literasi digital, penulis puluhan buku, dan Director Networking IMA Chapter Makassar

Baca juga: Kurang vitamin D berisiko kena skizofrenia
Baca juga: Manggis bantu sembuhkan skizofrenia

Pewarta:
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019